Selasa, 03 September 2013

cerpen : keyakinan sebuah harapan


sudah hampir 9 tahun, setelah kejadian itu,.. kata mengalah selalu saja dilontarkan kepadaku. Aku irenne yumi, panggil saja yumi. Aku anak terakhir dari dua saudara, mungkin ketika pertama kali kuperkenalkan diriku mereka menganggapku sebagai anak bungsu yang manja. Tapi justru tidak pada kenyataannya, aku memiliki kakak wanita, irrine sukza panggil saja rin. Kami hanya beda satu tahun, itu jarak yang lumayan dekat sekali.
~~~~~
sembilan tahun yang lalu..
yumi sd...
Paginya, kakaku rin, menjerit kesakitan diperutnya, akhirnya dia dibawa kerumah sakit dan dokter memfonisnya terkena usus buntu dan harus saat itu di operasi.
Saat itu aku masih duduk di bangku sd kelas empat, aku berusa bertanya kepada kedua orang tuaku, “kenapa dengan kak rin..?” tanya ku kepada papa, hanya saja papa tidak menjawab pertanyaanku bahkan seakan mengagapku tidak ada.
Akhirnya kutanyakan hal yang sama pula pada mama, mama pun melakukan hal yang sama seperti papa. Aku yang tidak mengetahui apa-apa hanya bisa duduk diam didepan ruang operasi.
Keesokannya, sehubung kak rin, masih belum di ijinkan pulang akhirnya papa dan mama bergantian kerumah sakit untuk menemani kak rin. Karena aku sekolah jadinya mama dan papa tidak melibatkanku dan tidak mengijinkanku untuk menjenguknya, kupikir wajar karena rumah sakit tidak mengijinkan anak kecil menjenguk.
Setelah beberapa hari, paginya..
Mama : “yumi, mama hari ini kerumah sakit, nanti malam papa pulang kok”
Aku :  hanya mengangguk, “ya..”
Sorenya, papa telpon akan pulang telat kalau gak nanti mama yang pulang,  akhirnya karena ingin menunggu papa ataupun mama, aku ketiduran di ruang tamu, hingga terbangun jam 2 papa maupun mama tidak ada, saat itu aku khawatir akan mereka berdua, tapi kekhawatiranku justru sepertinya tidak berguna buat mereka.
Paginya dengan santai mereka berdua pulang bersama
Mama : “maaf mama sama papa tidak ada yang jadi pulang karena kakakmu mau ditemenin sama mama dan papa”
Akupun tanpa pikir panjang, langsung mengatakan “lalu bagaimana yumi apa mama papa tidak mengkhawatirkanku” sambil teriak ala anak kecil.
Tapi mama justru mengatakan “yumi mengertikan kak rin lagi sakit jadi perlu ditemenin, yumi sudah besar sekarang jadi harus bisa mengalah dengan kak rin juga yah..”. tanpa memperhatikan aku sedang menangis karena khawatir dengan mereka.  Semenjak itulah kata mengalah pertama dilontarkan kepadaku, saat itu aku berharap tidak pernah mendengarnya. Dan karena operasi ini kak rin jadi sakit-sakitan dan jadi berfisik lemah.
~~~~~
Yumi smp..
Saat itu, mama menghadiahiku sebuah gelang kesayangan mama yang mama dapat dari papa dulu. Hadiah itu sudah diniatkan untukku, bahkan kak rin ketika inginkan itu mama terus menegaskan kepadanya.
Esoknya kak rin jatuh sakit, dan divonis tiffus., dan lagi-lagi kak rin harus di rawat inap di rumah sakit.
Malamnya, aku dipanggil papa ke halaman belakang,..
Papa : “yumi,... (sambil terbata-bata)... yumi tau kan kak rin sakit...”
Dalam hatiku, berdo’a berharap tidak terulang lagi kejadian itu... kejadian ketika yumi sd.
Aku : “ya yumi tau pa..”
Papa melanjutkan : “yumi, papa khawatir kak rin, jatuh sakit.... karena... masalah gelang yang mama hadiahkan kepada yumi,..”
Tanpa sadar air mataku langsung keluar begitu derasnya bukan karena kata gelang tapi aku khawatir kata mengalah itu keluar dari kata-kata papa dan itu akan terulang lagi. Papa pun melanjutkan “..jadi papa harap yumi mau mengalah dengan kak rin, yah.. papa yakin pasti yumi akan mendapatkan hal yang jauh lebih dari gelang itu...” yah kata itu akhirnya keluar dan air mataku pun keluar lagi dengan derasnya.
Papa : “yumi maukan..??? dalam hal ini yumilah yang akan jadi pemenangnya karena yumi telah mengalah.. yumi maukan..???”
Aku yumi smp hanya bisa mengenggukan kepala tanpa mengatakan kata sepatah katapun. Dan papa hanya mengatakan “trima kasih ya yumi.., sekarang yumi pergi tidur sana dah malam..”
Aku pergi kamar dan langsung merebahkan tubuhku tanpa mempedulikan tugas yang deadline besok,. 
~~~~
Yumi yang baru mau masuk sma
Aku bingung dalam menentukan dimana aku akan melanjutkan sma ku. Ada dua pilihan utamaku, yaitu sma favorit di bantul dan smk kimia analisis favorit di bantul. Hanya saja aku tidak diijinkan di antara keduanya, aku disuruh masuk sma di yogyakarta, kalau jika ingin masuk smk maka aku harus masuk ke smk multimedia. Hal ini karena obsesi dari kak rin, karena kak rin tidak masuk ke dua sekolah itu karena fisik kak rin yang tidak memenuhi syarat masuk, makanya ia melemparkan hal itu kepadaku, dan papa mama pun justru mendukung tanpa mempedulikan keiinginanku dimana aku sekolah. Dan mengatakan sudah turuti saja pendapat kak rin. Menurut ku itu kata  sebuah mengalah secara lembut.
Akhirnya, aku pun masuk ke smk multimedia satandar international dimana itu bukanlah hal kesukaanku. Sekalipun aku masuk kelas akselerasi.
~~~~
Yumi sma
Aku bertemu dengan seseorang pemuda tanpa sengaja, di perpustakaan nasional jakarta. Saat itu, ada study tour ke universitas ui, jadi sebelum pulang aku mampir ke perpustakaan, yah bukulah yang kini selalu menjadi pelampiasanku ketika aku kesal.
Aku begitu asyik membaca buku, sampai aku tidak menyadari ada seseorang yang jauh membutuhkan buku itu dibandingkan denganku.
Tidak tau bagaimana ceritanya semenjak itu kami saling komunikasi, hanya saja komunikasi kami hanya membahas tentang ilmu pengetahuan, info-info penting, atau apapun, dan tidak pernah membicarakan tentang kehidupan kami berdua.
Kami seperti teman konsul, dia rein skuant, seorang mahasiswa kimia UI jakarta. Panggil saja rein.
~~~~
Yumi kuliah
Kak rin kini kuliah di UGM fakultas mipa lebih tepatnya mengambil pendidikan biologi.
Aku dan rein semakin sering berkomunikasi setelah aku masuk univ yang sama dengannya hanya saja aku masuk fakultas IlKom UI. Kami berdua sering mengikuti acara kampus jadi semakin berkominikasi.
Hampir tiga tahun menganalnya, ia mengatakan hal yang mebuatku kaget, ketika ia telah lulus dan mendapat beasiswa ke inggris.
Hari itu tepat seminggu ia lulus atau lebih tepatnya dua hari sebelum ia pergi ke inggris, dia mengatakan “maukah kau menungguku..??” pertanyaan yang membuatku terdiam sesaat.  Lusanya aku mengantarnya sebagai teman ke bandara, dan sampai pesawatnya lanndas pun aku tidak memberikan jawabannya, karena aku takut kejadian itu terus berulang hingga aku memutuskan kepada siapa aku nantinya,
Hanya saja, akhirnya aku ambil keputusan untuk menunggunya.
~~~~~~~~
Sembilan tahun kemudian
Yumi sekarang
Sudah hampir tiga tahun aku dan rein tidak berkomunikasi.
Paginya aku dapat pos, sebuah nama yang tidak asing buatku.. yah itu rein. Rein menulis surat dan mengatakan bahwa esok ia akan pulang. Sehubung aku tidak bisa karena kesibukanku sebagai seorang staf manager di salah satu perusahan televisi swasta.
Seminggu kemudian aku baru bisa bertemu dengannya, dan waktu seminggu itu waktu yang cukup lama untuk seorang kak rin mengenalnya,,.. mengenal rein orang yang kutunggu hingga sekarang.
Aku tidak tau dari mana mereka bertemu. Aku mengetahuinya setelah beberapa bulan  kemudian ketika tanpa sengaja membaca diary kak rin yang mengatakan adanya sebuah perasaan untuk rein,
Rein pun tidak mengetahui bahwa rin adalah kakakku. Aku hanya bisa menyimpan rahasia ini. Hingga aku baru mengetahui bahwa kak rin mengetahui aku mengenal rein. Karena hal ini kak rin langsung jatuh sakit yang hampir mebuatnya koma.
Yah.. benar lagi-lagi aku yumi harus mengalami hal ini dan tidak tau kapan harus berhenti, karena papa dan mama memintaku untuk melepaskan rein, dan melupakan rein. Aku benar-benar tidak mengerti apakah hal ini harus kulakukan juga agar kak rin sembuh..??? apa harus aku..???
Malamnya...
Telepon berdering
Aku : “hallo.. iya siapa...???”
“ini papa yumi.., yumi, kak rin kritis, kamu bisa kesini sekarang..??”
Aku bingung apa aku harus datang atau tidak, karena jika aku datang mereka akan terus memintaku untuk mengalah demi kesehatan kak rin.
Tapi, aku tetap datang, dan benar dugaanku, mereka tanpa lelah memintaku.
Paginya..
Aku menelepon rein, dan ingin berbicara empat mata denganya..
Aku : “halo.. rein.. ini yumi,”
Rein : “ya aku tau itu kau yumi, ada apa ?”
Aku : “bisa kita bertemu sekarang ada hal yang ingin kukatakan padamu”
Rein : “ada apa..?? apa ada masalah..??” sepertinya rein mengethui bahwa ada sesuatu yang salah denganku.
Kitapun bertemu. Sebelum aku mengatakan apapun, aku mengajak rein kesesuatu tempat. Ya.. Rumah Sakit tempat kak rin dirawat.
Rein : “kenapa kita kerumah sakit yumi..?? apa kau sakit..?? kau sakit apa..??” pertanyan bertubi-tubi dari rein, yang tidak satupun aku jawab.
Depan kamar rawat kak rin.
“rein ada seseorang yang ingin bertemu denganmu..” kataku lemas.
Kamipun masuk disana papa dan mama sepertinya sudah menunggu kami.
Papa : “kau yang bernama rein..?”
Rein : “ia om..”
Papa langsung mengajak rein ke dekat kak rin. Rein terlihat kaget dan terlihat seperti orang yang bingung.
“rin..?? yumi... rin...???” tanya rein dengan bingung.
“rein,.. yumi dan rin.. maksudku kak rin kami bersudara..”
“kenapa kau tidak bilang bahwa rin adalah kakakmu dengan begitu kita bisa saling mengenal satu sama lain terutama keluargamu yumi..” balasnya lembut. “kakakmu sakit apa..?” . aku hanya diam tanpa menjawabnya.
“rein ada yang ingin kukatakan, bisa kita bicara diluar..??”
Taman rumah sakit
Aku : “rein,.. yumi tidak ingin menyakiti siapapun termasuk rein,.. “
Rein : “apa maksud yumi..??”
Aku : “rein... tolong dengarkan yumi dulu.. jangan tanya kenapa ke yumi karena yumi akan menjelaskanya dengan jelas”
Rein : “baiklah.. katakan ada apa..??” balasnya dengan lembut dan tenang seperti biasa. Aku tidak tau apa nanti ia bisa setenang itu ketika aku mengatakannya.
 “rein.. maf jika yumi punya salah sama rein,.. yumi harap nanti rein tetap mengaggap yumi ada,.. (aku hanya bisa melihat dahinya yang mulai mengerut) rein, .. sudah tau kalau yumi dan kak rin saudara, maksud yumi mengajak rein kesini karena yumi ingin meminta satu hal ke rein, dan hal ini berhubungan dengan kak rin. Sebenarnya selama ini yumi telah mengetahui rein kenal dengan kak rin hanya saja yumi tidak tidak bisa mengatakannya karena .. yu,,mi,,.. tau... kalau... kak.. riinn... menyukai rein ...(sambil terbata-bata). (sesekali kulihat wajah rein dan kali ini wajah rein benar-benar seperti orang ingin bertanya). Kak rin jatuh sakit karena kak rin tau kalau aku dan rein ada hubungan lebih dari teman biasa. Sekalipun kita selalu menjaga jarak batas antara sorang pria dan wanita.
Karena itu yumi ingin.. (tanpa sadar air mataku telah jatuh) rein bisa bersama dengan kak rin (kata yang tidak bisa kukatakan tapi harus kukatakan).....” aku tidak berani melihat wajahnya rein, aku takut melihat wajah rein saat ini.
“.... rein, yumi harap rein mengerti kondisi yumi, yumi hanya ingin melihat papa mama senang kak rin bisa sembuh, dan tidak jatuh sakit lagi karena hal ini, kak rin menyukai rein, yumi mohon rein mau dengan kak rin... sedang yumi,.. yumi bisa bertahan, yumi akan baik-baik saja, jadi rein maukan...?”..
Sesaat, sunyi tidak ada kata dari ku atau pun rein.. dan akhirnya rein pun berbicara dan memecahkan kesunyian.
“yumi telah mengatakan apa yang yumi katakan kini ijinkan rein untuk bicara, tolong dengarkan rein, dan tolong jangan tanya kenapa, ... (sumyi sesaat)
Yumi, aku memang mengenal kakak mu, masalah sebuah perasaan rin kepadaku aku tidak tahu tentang itu, dan kau telah memberitahuku terima kasih. Sebelum rein pergi ke inggris, rein pernah bertanya kepada yumi, maukah yumi menunggu rein ? pertanyaan itu sungguh aku tanyakan kepada yumi, karena rein telah memilih yumi, dan yumi pun telah menjawab pertanyaan rein. Setelah itu, rein berusaha sekeras-kerasnya agar yumi tidak terlalu lama menunggu rein, maka itu rein hampir tidak pernah lagi mengontak yumi. Ketika rein di inggris, rein telah mnyiapkan segalanya untuk yumi. Dan rencana rein akhir bulan ini rein ingin menyampaikan keseriusan rein ke kedua orang tua yumi. Tapi, justru aku mendengar hal ini dari yumi. Yumi meminta ku untuk berpaling dan melupakanmu begitu saja, ..” hal ini baru pertama kali aku melihat wajah rein tertunduk sesak tak tertahan, dan perlahan ada lelehan air dari ujung mata rein.
“... yumi mengatakan apakah aku mau..?? ... yumi, maaf, aku tidak bisa, karena aku tetap memilih yumi jika hal ini terulang untuk kedua kalinya, sebuah perasaan tidak bisa dipindah hatikan dengan mudah yumi, dan kau begitu mudahnya mengatakan tidak apap-apa.. apa benar kau tidak apa-apa..??? haruskah kau menyakiti perasaanmu hanya karena kesembuhan seseorang..???. aku tau jodoh sudah ada yang mengaturnya, tapi..., apa harus melalui cara seperti ini..??? yumi maf aku tidak bisa.” Kata terkahir dari rein dan pergi tanpa memandang ku terlebih dahulu, bahkan setelah hari itu aku putus kontak dengan rein.
seandainya hal ini terulang maka aku mungkin akan melakukan hal yang sama, mengalah itulah kata yang terus mereka lontarkan kepadaku tanpa mengetahui perasaanku,”.
~~~~
˜˜˜

Tidak ada komentar: